4/11/2015

Good to Great

Good to Great

“Good to Great “ istilah ini sempat menjadi diskusi yang menarik di forum manager OPI ketiga yang baru saja berlangsung kemarin. Hal ini bermula dari sambutan Pak Tim yang sangat mengesankan bercerita tentang perjalanan perubahan perusahaan kita menjadi yang terbaik dan disambut dengan respond Pak Didik tentang good to great dan disambung lagi dengan Pak Rully yang menyatakan bahwa CEO nya rendah hati. Selanjutnya pertanyaan apakah itu Good to Great.

Ada pendapat bahwa ini bagian dari continual improvement karena suatu proses perbaikan terus menerus  untuk mencapai Great (hebat), karena kalau kita hanya puas dengan pencapaian yang Good (baik) saja maka proses perbaikan itu sendiri akan berhenti dan seterusnya menjadi sesuatu yang biasa saja atau bahkan membosankan bagi client kita, walaupun kita sudah mendapatkan kenyamanan dengan pencapaian good itu. Dan hal inipun terbukti dimana Jepang dengan Kaizennya* bisa menjadi negara terbelakang menjadi salah satu negera terkemuka di saat ini.

Good to great pada saat ini banyak dibicarakan setelah Buku karangan Jim Collin ini dengan judul yang sama, laris manis di pasaran. Buku ini merupakan hasil riset 5 tahun yg dilakukan Jim Collin dkk didalam mencari jawaban atas factor apa yg sebenarnya yang paling menentukan bagi tercipatnya great company. Dan riset mereka menemukan 6 elemen kunci rahasianya yaitu

  1. Level 5 Leadership
  2. First Who….then What
  3. Confront the Brutal Facts (Yet Never Lose Faith)
  4. The Hedgehog Concept
  5. A Culture of Discipline
  6. Technology Accelerators

1.      Level 5 leadership
Great companies ternyata selalu dipimpin oleh CEO yang memiliki kualitas Level 5 Leadership. Dimana kualitas level 5 Leadership tersebut adalah:
Level 5: Good-to-Great Leader
Level 4: Effective Leader
Level 3: Competent Manager
Level 2: Contributing Team Member
Level 1: Highly Capable Individual
Adapun ciri-ciri Level 5 Leadership adalah : fokus yang amat tinggi pada results, memiliki kapasitas eksekusi yang baik (good executor), dan cenderung bersikap low profile (ini seperti yang disampaikan Pak Rully didalam forum manager kemarin).
Perhatikan kemampuan eksekusi yang baik menjadi hal utama di elemen ini.





2.      First Who….then What
Good-to-great companies selalu memulai proses transformasi dengan memilih orang-orang yang tepat (dan “membuang” orang-orang yang under-performance), baru kemudian  menentukan ke arah mana layar perusahaan akan dilabuhkan.
Poin utama dalam elemen kedua ini bukan hanya tentang “getting the right people on the team”., Poin yang lebih penting adalah “pertanyaan tentang siapa” selalu lebih dahulu dibanding “pertanyaan tentang apa”.
Good-to-great companies selalu bergerak pertama-tama dengan berpikir tentang MANUSIA, baru kemudian berbicara mengenai  strategi, anggaran, struktur organisasi, dan lain-lain.
3.      Confront the Brutal Facts
Semua good-to-great companies memulai proses pertumbuhannya dengan cara confronting the brutal facts of their current reality. Good-to-Great Companies selalu menerapkan prinsip akan keyakinan yang kuat akan keberhasilan di akhir perjalanan. (tentu kita masih ingat bagaimana brand Holcim dulu dibangun, meski dihadapkan pada rintangan atau tantangan yang amat sulit dan bahkan merosot penjualan kita, namun saat ini patut berbangga karena dari anak kecil sampai siapapun tahu apa itu Holcim). Dan realitas persaingan bisnis tetap dihadapi, betapapun kerasnya derap persaingan itu.. Tugas utama untuk merubah suatu perusahaan menjadi great company, adalah membangun iklim kerja dimana setiap anggota memiliki kesempatan untuk di-dengar pendapatnya, and ultimately,  for the truth to be heard
4.      The Hedgehog Concept
Good-to-great companies cenderung mirip seperti hedgehogs — sejenis entitas yang sederhana, simpel, memahami "one big thing" and stick to it. Perusahaan pembanding cenderung seperti foxes — mencoba mengetahui banyak hal, namun lack consistency.. Dari riset yang dilakukan Jim Collins dkk, rata-rata dibutuhkan waktu empat tahun bagi suatu perusahaan untuk mampu menanamkan konsep Hedgehog dalam dirinya.. Anda tidak perlu berada dalam industri yang atraktif untuk mampu menghasilkan profit yang spektakuler. Good-to-great companies membuktikan bahwa mereka tetap bisa menghasilkan laba yang superior meski jenis industri dimana mereka berada bukan jenis industri yang atraktif.
5.      A culture of disciplines
Good-to-great companies dari luar terlihat sebagai entitas yang membosankan, “garing”, biasa-biasa saja, namun jika ditelisik lebih dalam ternyata….. they're full of people who display extreme diligence and a stunning intensity. A culture of discipline is not just about action. It is about getting disciplined people who engage in disciplined thought and who then take disciplined action. A culture of discipline melibatkan dua dimensi. Pada satu sisi, kultur itu menuntut para anggotanya untuk selalu mengacu pada proses dan sistem kerja yang konsisten. Pada sisi lain, ia juga memberikan kebebasan dan tanggungjawab dalam kerangka sistem itu..
6.      Technology Accelerators
Dalam isu IT, good-to-great companies selalu mengajukan pertanyaan : apakah aplikasi teknologi ini fit directly dengan konsep Hedgehog kami? Jika ya, maka kami akan menjadi a pioneer in the application of that technology. Jika tidak, kami akan melupakannya. Good-to-great companies menggunakan teknologi lebih sebagai an accelerator of momentum, not a creator of it. Tidak ada satupun good-to-great companies yang memulai transformasinya dengan pioneering technology, yet they all became pioneers in the application of technology once they grasped how it fit with their strategies.


Source:
Tulisan Yodhia Antariksa dalam www.strategimanajemen.net dengan beberapa tambahan isi untuk memperjelas dan memberi penekanan-penekanan di beberpa hal yang relevant dan penting
Source of Reference: Jim Collins, Good to Great : Why Some Companies Make the Leap…and Others Don’t, Harper Business.


9/30/2009

Lean Operation

Lean operation is a business performance improvement tool that focuses on enhancing quality, cost, delivery, and people. It helps idetify waste and makes continuous improvement possible by identifying and eliminating non-value-adding activities in design, production, supply chain, services and management.
Striving to improve competitiveness by providing customers faster and better products or services, which will accomplish more than worrying about the next global crisis, is the basic aim behind lean operation. The only game we need to be adept at today is the one that removes waste so the customer sees more value.
In the world of lean practices, companies try to produce only what has been demanded by the customer, and only when the product is required. To optimize benefits of lean throughout the supply chain, it is essential to build a partnership with your suppliers. This partnership must work on the basic principle that you pull only what you consume, and nothing more. Your suppliers restore what you have consumed. In this way, inventories are maintained at their smallest for both dealer and customer.
Achieving this level of trust with your supplier will require frequent communication and extensive sharing of information. Successful partnerships result from inviting each other to strategic planning sessions, attending each other's events and participating in other joint activities.
One good approach is to weave principles, objectives, tools, and methodology behind lean operation into the strategic and business plans of your organization, in order to make lean practices more suitable for your company.

Reff: Kent Pinkerton

9/24/2009

Coaching

Coaching adalah suatu pendekatan didalam membimbing seseorang untuk mengembangkan Kelebihan mereka, mengenali dan memupuk hal-hal yang perlu dikembangkan sehingga potensi dirinya bisa di optimalkan sekaligus sebagai strategi untuk pengembangan pribadi atupun karirnya.
Istilah coaching dahulu sering kita dengar di dunia olahraga sebagai pelatih olahraga yang bertugas untuk mengeluarkan potensi kemampuan atilt didikannya dan menwujudakannya menjadi sebuah prestasi yang lebih tinggi dan maksimal. Tidak ada satupun tim olahraga yang berprestasi tanpa didukung oleh tim pelatih yang baik. Didalam perkembangannya istilah ini menjadi sering kita dengar di dalam dunia kerja, bisnis ataupun pelatihan. Hal ini terjadi di dorong oleh adanya kebutuhan akan Coach untuk membantu didalam menghadapi ketatnya tantangan dinamika bisnis dewasa ini sehingga peningkatan kinerja menjadi pilihan yang wajib harus dilakukan, dimana untuk itu peran Coach sebagai patner untuk membantu orang lain didalam mencapai kinerja terbaiknya menjadi suatu kebutuhan baru.
Coaching didalam penerapannya dilakukan secara terstruktur dan sistematis sehingga dapat dipergunakan sebagai tools untuk proses belajar dan pengembangan individu, membimbing seseorang untuk mencapai tujuan, berbagi pengalaman serta memberikan inspirasi dan dukungan yang tepat yang dilakukan secara terus menerus, intensive dan konsisten menuju ke tingkat kemandirian dalam kurun waktu tertentu. Tingkat kemandirian dalam hal ini artinya seseorang itu telah terbentuk perilaku produktifnya sesuai dengan target yang diinginkan dan tanpa dukungan seorang coach dia sudah dapat bekerja seperti yang diinginkan. Selain daripada itu dengan Coaching akan dapat memberikan dampak 2 aspek sekaligus yaitu pengembangan personil dan juga peningktan bisnis. Hal ini terjadi karena dengan melakukan coaching secara konsistent dan baik, seseorang akan terlatih secara baik skill dan kemampuannya. Hasil dari coaching yang berupa action atau tindakan-tindakan yang produktif akan memberikan hasil yang nyata bagi peningkatan kinerja bisnis. Selain daripada itu hasil dari proses coaching dapat memberikan dampak lebih langgeng dan jangka panjang karena bisa membantu didalam pembentukan perilaku seseorang, membangun iklim kerja yang kondusif, saling kerja sama dan saling percaya yang pada akhirnya memberikan hasil kerja yang maksimal.

Toto Sugeng
Lebaran 2009